JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II PERCOBAAN 8 “Isolasi Senyawa Bahan Alam (Steroid dan Terpenoid)”
JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN 8
“Isolasi
Senyawa Bahan Alam (Steroid dan Terpenoid)”
DUSUSUN OLEH :
WISLIANA
(A1C118060)
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSULRIZAL . M,Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
PERCOBAAN
8
I.
Judul : Isolasi
Senyawa Bahan Alam (Steroid dan Terpenoid)
II.
Hari/Tanggal : Rabu, 25 November 2020
III. Tujuan :
Adapun
tujuan dilakukannya praktikum ini ialah:
Untuk menguasai teknik-teknik isolasi bahan alam khsusunya steroid dan terpenoid
Untuk mengena sifat-sifat kimia steroid dan terpenoid melalui reaksi-reaksi pengenalan yang spesifik
IV.
Landasan Teori
Steroid
merupakan senyawa penting dalam pengobatan. Keberadaannya sebagai salah satu
diantara golongan senyawa metabolit sekunder diharapkan menjadi konstituen
kimia yang memberi nilai pengobatan pada suatu tumbuhan. Senggugu telah lama
dimanfaatkan sebagai obat secara tradisonal dan dilaporkan mengandung steroid.
Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa steroid dari
kulit akar senggugu. Sebuk kulit akar senggugu diekstraksi dengan metode
maserasi bertingkat mulai n-heksan, etil asetat hingga metanol, sehingga
diperoleh ekstrak fraksi etil asetat kulit akar senggugu. Ekstrak tersebut
kemudian difraksinasi menggunakan KCV (Kromatografi Cair Vakum) eluen
n-heksan-etil asetat-metanol secara bergradien, diperoleh sepuluh fraksi.
Selanjutnya pada fraksi D dilakukan isolasi senyawa menggunkan KKG
(Kromatografi Kolaom Grafitasi) eluen n-heksan-etil asetat secara bergradien
pula, dihasilkan delapan fraksi yang dipantau dengan KLT. Pemurnian isolat
dilakukan pada fraksi D7 dengan cara rekristalisasi, diperoleh isolat N1
sebanyak 17 mg. Isolat tersebut di uji kemurniannya dan dilakukan analisis
spektroskopi GC-MS, 1H-NMR dan 13C-NMR (Nasrudin dkk,2017).
Steroid
merupakan terpenoid lipid yang dikenal dengan empat cincin kerangka dasar
karbon yang menyatu. Struktur senyawanya pun cukup beragam. Perbedaan tersebut
disebabkan karena adanya gugus fungsi teroksidasi yang terikat pada cincin dan
terjadinya oksidasi cincin karbonya (Samejo dkk., 2013).
Steroid
berperan penting bagi tubuh dalam menjaga keseimbangan garam, mengendalikan
metabolisme dan meningkatkan fungsi organ seksual serta perbedaan fungsi
biologis lainnya antara jenis kelamin. Tubuh manusia memproduksi steroid secara
alami yang terlibat dalam berbagai proses metabolisme. Sebagai contoh steroid
dari garam empedu, seperti garam deoksikolik, asam kholik dan glisin serta
konjugat taurin yang berfungsi memperlancar proses pencernaan. Berdasarkan
sumbernya steroid dibedakan atas steroid sisntetis dan alami. Steroid sintetis
yang umum digunakan adalah glukokortikosteroid, estrogen, metilprednisolon,
kortikosteroid, androgen, squalamine dan hydrocortisone. Senyawa ini juga
digunakan untuk pengobatan penyakit akibat kelebihan atau kekurangan hormon,
penyakit berbahaya serta penyakit lainnya seperti radang sendi dan alergi (Bhawani dkk., 2011).
Isolasi
senyawa steroid dari tumbuhan ini merupakan upayah dalam mencari senyawa
antioksidan yang dapat memberikan efek hepatoprotektif. Sebagaimana diketahui
bahwa senggugu secara tradisional telah lama digunakan untuk asma, bronkitis,
peluruh air seni, obat batuk dan untuk memperoleh suara yang jernih (Heyne,
1950).
Steroid
merupakan salah satu diantara golongan senyawa metabolit sekunder yang
kehadirannya diharapkan sebagai konstituen kimia yang memberi nilai pengobatan
pada suatu tumbuhan (Kardong dkk., 2012; Sasidharan dkk., 2011).
Herba
meniran mengandung metabolit sekunder plavonoid, terpenoid, alkaloid dan
steroid (Kardinan dan Kusuma, 2004). Beberapa hasil penelitian menunjukkan
senyawa terpenoid memiliki aktivitas sebagai antibakteri yaitu monoterpenoid
linalool, diterpenoid (-) hardwicklic acid, phytol, triterpenoid saponin dan
triterpenoid glikosida (Grayson, 2000).
V.
Alat dan Bahan
5.1
Alat
Tabung reaksi 20 buah
Plat tetes
Elenmeyer 250 ml
Gelas kimia 200ml
Pipet tetes
Corong gelas
Lumpang
Gelas ukur
5.2
Bahan
Pereaksi dragnedrof
Pereaksi meyer
Perekasi wagner
Shinoda
Kloroform
Etanol
NaOH padatan
Iodine
Metanol
Brusin
Heksan
Ki
VI.
Prosedur Kerja
Simplisia tumbuhan 5 gr kering yang telah dirajang halus masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml
Tambahkan 25 ml etanol diaduk-aduk, kemudian panaskan dia atas penangas air (jangan menggunakan api langsung akan terbakar).
Setelah dipanaskan lebih kurang 10 menit, disaring dalam keadaan panas. Filtrat diuapkan pelarutnya dengan evaporador giratorio atau dengan menggunakan penangas air, sehingga diperoleh ekstrak pekat etanol.
Ekstrak pekat etanol tersebut selanjutnya ditriturasi dengan sediklit eter dan beberapa tetes larutan eter ini ditempatkan dalam 2 lobang plat tetes dan dibiarkan kering.
Selanjutnya ditambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat, diaduk dan dengan hati-hati ditambahkan I tetes asam sulfat pekat dan amati perobahan warna yang terbentuk. Timbulnya warna merah atau merah ungu yang tidak stabil. Reaksi harus dicek dengan menambahkan hanya asam sulfat pekat pada lobang plat tetes yang satu laei, amati warna yang terjadi.
Permasalahan
Apa fungsi etanol pada percobaan ini?
Apa fungsi anhidrida asam asetat pada percobaan ini?
Mengapa reaksi harus dicek dengan menambahkan hanya asam sulfat pekat pada lobang plat tetes yang satu lain?

Baiklah saya Nurhalimah (024) akan mencoba menjawab permasalahan no 1 yaitu Apa fungsi etanol pada percobaan ini, Fungsi etanol disini adalah sebagai pelarut. Terima kasih
BalasHapusbaiklah sayanabilah zahrah (026) akan mencoba menjawab permasalahn wisliana No. 2 yang mana fungsi dari anhidrida asam disini ialah untuk mempercepat reaksi da ingin melihat perubahan warnanya. terima kasih.
BalasHapusBaiklah saya akan menjawab nomor 3.menurut saya untuk mengethui apakah reaksi tersebut berjalan atau tidak.terimakasih
BalasHapus