JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II PERCOBAAN 11 “Uji Karbohidrat”

 

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

PERCOBAAN  11

“Uji Karbohidrat”


 

DUSUSUN OLEH :

WISLIANA

(A1C118060)

DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSULRIZAL . M,Si

               
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020

 

PERCOBAAN 11

I. Judul                : Uji Karbohidrat

II. Hari/Tanggal : Rabu, 9 Desember 2020

III. Tujuan          : Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini ialah:

  1. Dapat mengetahui karbohidrat yang lazim dan sifat fisisnya
  2. Dapat mengetahui dan mempelajari perbedaan sifat fisis dan kimia dari monosakarida, disakarida dan polisakarida.
  3. Dapat mengetahui reaksi karbohidrat dengan kimiawi dasar dari gugus fungsi.
  4. Dapat mempelajari dan mengetahui beberapa reaksi karbohidrat yang penting dalam metabolisme.

 

IV. Landasan Teori

Karbohidrat didefinisikan secara umum sebagai senyawa dengan rumus molekul Cn(H2O)n. Karbohidrat adalah turunan aldehid atau keton dari alkohol polihidroksi atau senyawa turunan sebagai hasil hidrolisis senyawa kompleks (Girinda, 1986). Karbohidrat yang dihasilkan oleh tumbuhan merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam akar, batang, dan biji sebagai pati (arnilum). Karbohidrat dalam tubuh manusia dan hewan dibentuk dari beberapa asam amino, gliserol lemak, dan sebagian besar diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. (Sirajuddin dan Najamuddin, 2011)

            Karbohidrat adalah polisakarida, merupakan sumber energi utama pada makanan. Nasi, ketela, dan jagujng adalah contoh beberapa makanan yang mengandung karbohidrat. Penyusun utama karbohidrat adalah karbon, hydrogen, dan oksigen. dengan rumus umum Cn(H2O)n. karbohidrat berasal dari kata karbon dan hidrat. Atom karbon yang mengikat air (Haris,2013).

            Proses penyerapan iodin oleh karbohidrat adalah larutan pati terdapat unit-unit glukosa yang membentuk ranrai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini dapat menyebabkan pati membentuk kompleks sehingga molekul iodin dapat masuk ke dalam spiralnya (Amrida,2011).

Menurut Respati dalam Tim Kimia Organik II (2020), karbohidrat terdiri dari tiga golongan, yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Dimana, karbohidrat yang paling sederhana ialah golongan monosakarida. Oligosakarida ialah senyawa yang dihidrolisis yang menghasilkan dua sampai enam gula monosakarida. Polisakarida ialah karbohidrat yang monomernya berasal dari monosakarida.

            Menurut Fiah (2013), ada tiga macam pembagian karbohidrat berdasarkan susunan kimia, yaitu:

1.      Monosakarida yaitu senyawa karbohidrat yang paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisisis lagi dalam kondisi lunak menjadi karbohidrat lain. Monosakarida larut dalam air. Contoh monosakarida :

a.       Glukosa/dekstrosa/gula anggur

b.      Fruktosa/luvulosa/gula buah

c.       Galaktosa

2.      Oligosakarida yaitu gabungan senyawa monosakarida jumlahnya antara 2-8 molekul monosakarida.

a.       Sukrosa

b.      Laktosa

c.       Maltose

3.      Polisakarida yaitu karbohidrat dalam bentuk polimer dari satuan monosakarida yang sangat panjang.

a.       Amilum/pati

b.      Glikogen/pati hewan

Uji iodin dalam senyawa karbohidrat dalam bahan makanan bertujuan untuk mengetahui adaya polisakarida. Polisakarida yang ada dalam sampel akan membentuk kompleks absorbs berwarna spesifik dengan penambahan iodium. Polisakarida jenis amilum akan memberikan warna biru. Dekstrin akan memberikan warna merah anggur, sedangkan glikogen dan pati mengalami hidrolisis parsial akan memberikan warna merah kecoklatan.

Menurut Hidayanto (2017), kandungan karbohidrat dapat diidentifikasi dengan uji kualitatif berdasarkan pembentukan warna yang terbentuk. Adapun beberapa uji yang digunakan, yaitu:

a. Uji Iodin

Berfungsi untuk menentukan adanya gugus polisakarida. Jika ditambahkan iodin maka akan terbentuk senyawa kompleks yang spesifik. Amilum dan pati menghasilkan warna  biru, dekstrin warna merah anggur.

b. Uji Benedict

Uji yang menghasilkan kandungan positif bila senyawa mengandung gula pereduksi seperti glukosa dan fruktosa. Uji ini dengan menambahkan gula pereduksi dengan campuran tembaga sulfat, natrium sitrat dan natrium karbonat. Bila dipanaskan, maka akan terbentuk endapan kupro oksida berwarna merah kecoklatan.

c. Uji Molisch

Berfungsi untuk mendeteksi adanya gugus aldose maupun ketosa. Adapun uji ini dilakukan dengan menambahkan karbohidrat dengan asam sulfat membentuk senyawa gabungan berwarna ungu.

 

V. Alat dan Bahan

     5.1 Alat

  • Tabung reaksi                    
  • Pipet tetes
  • Pipet volume
  • Bulb (filler)
  • Kompor listrik/spiritus
  • Pengaduk Kaca
  • Mortar
  • Stopwatch
  • Gelas Kimia 100 dan 200 ml       
  • Termometer

   5.2 Bahan

  • Glukosa
  • Sukrosa
  • Selulosa (Pati)
  • Asam sulfat pekat (H2SO4)
  • Asam Klorida (HCl)
  • Natrium Hidroksida (NaOH)
  • Peraksi Molisch
  • Larutan Iod
  • Pereaksi Tollens
  • Pereaksi Fehling A dan B
  • Pereaksi Basa Kuat
  • Pereaksi Iod
  • Aquades

VI. Prosedur Kerja

6.1 Uji Molisch

  1. Disiapkan tabung reaksi bersih, masing-masing diisi dengan 5 ml larutan gula (glukosa, sukrosa, pati atau selulosa dalam air).
  2. Ditambahkan 1 tetes pereaksi molisch (alfa naftol dalam alkohol), kocok perlahan.
  3. Dimiringkan tabung dan ditambahkan 5 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung.
  4. Diperhatikan warna yang terbentuk pada batas pertemuan dari dua lapisan cairan dalam tabung berupa cincin merah/violet. Bila campuran dikocok dan diencerkan dengan 5 ml air terbentuk warna ungu tua.

 

6.2 Reaksi Glukosa

6.2.1 Dengan pereaksi Fehling

  1. Disiapkan tabung reaksi bersih, dimasukkan 2 ml larutan fehling A dan 2ml larutan fehling B dilanjutkan dengan menambahkan beberapa tetes larutan glukosa.
  2. Dikocok perlahan, lalu masukkan tabung reaksi kedalam penangas  air mendidih.
  3. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi, lalu tuliskan reaksinya

 

6.2.2 Dengan pereaksi Benedict

  1. Disiapkan tabung reaksi bersih, dimasukkan 2 ml pereaski benedict, lalu ditambahkan beberapa tetes glukosa.
  2. Diaduk perlahan, lalu dimasukkan kedalam penangas air mendidih.
  3. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi, lalu tuliskan reaksinya.

 

6.2.3 Dengan pereaksi Tollens

  1. Disiapkan tabung reaksi bersih, dimasukkan 2 ml pereaski tollens, lalu ditambahkan beberapa tetes glukosa.
  2. Diaduk perlahan, lalu dimasukkan kedalam penangas air mendidih sampai terbentuk cermin perak pada tabung reaksi.
  3. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi, lalu tuliskan reaksi pembentukan cermin perak

 

6.2.4 Uji Iod

  1. Dimasukkan sampel glukosa, sukrosa, selulosa (pati) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi.
  2. Ditambahkan 5 tetes larutan iod
  3. Diamati perubahan warna yang terjadi.

 

6.2.5 Dengan basa kuat

  1. Disiapkan tabung reaksi bersih, dimasukkan 2 ml larutan glukosa 10% dan 0,5 ml NaOH 25%.
  2. Diaduk perlahan dan dipanaskan dalam air mendidih selama 5 menit.
  3. Diperhatikan rupa dan bau zat yang terbentuk dan hasil reaksinya.

 

6.2.6 Reaksi Sukrosa

  1. Dilarutkan 1,5 gram sukrosa dalam 200 ml air. Dilakukan percobaan B (1,2,3 dam 4) menggunakan sukrosa sebagai pengganti glukosa.

6.2.7 Reaksi Laktosa

  1. Dilarutkan 1,5 gram sukrosa dalam 200 ml air. Dilakukan percobaan B (1,2,3 dam 4) menggunakan sukrosa sebagai pengganti glukosa.

 

6.3 Reaksi Pati

  1. Digerus sebanyak 0,5 gram pati menggunakan mortar kecil dengan sedikit air hingga terbentuk pasta.
  2. Dipindahkan pasta kedalam gelas piala, tambahkan air dan lakukan dekantasi sebanyak 3 kali dengan air sampai cairan diatas endapan menjadi bening.
  3. Dipindahkan pati yang telah dicuci kedalam gelas piala berisi 100 ml air mendidih sambil dikocok perlahan.
  4. Dilakuan percobaan menggunakan pereaksi fehling, basa kuat dan pereaksi iod dengan menggunakan 2 ml larutan suspense zat pati setiap percobaan.
  5. Diamati seksama dan catat perubahan yang terjadi pada setiap pereaksi yang digunakan.

 

6.4 Reaksi Pati yang dihidrolisis

  1. Dimasukkan 10 ml larutan pati pada sisa percobaan diatas dalam tabung reaksi, lalu tambahkan 1 ml HCl pekat dan panaskan perlahan dengan api kecil.
  2. Bila suhu mencapai 80oC, diteteskan sedikit cairan tersebut pada larutan iodium dalam sebuah lempeng penguji warna.
  3. Dilanjutkan pemanasan sampai larutan mendidih sambil setiap menit dilakukan uji warna. Dilakukan 5/6 kali atau sampai tidak terjadi lagi perubahan warna larutan.
  4. Diamati dan mencatat setiap perubahan warna serta menetralkan larutan zat pati yang telah dihidrolisis tadi dengan larutan NaOH 10%, lalu uji menggunakan pereaksi fehling.

 

Link Video :

https://youtu.be/j4sYs4f-UPM

https://youtu.be/-OFCo_FItPg

https://youtu.be/bZMuE8k1DNQ

 

Permasalahan:

  1. Pada Uji Molisch mengapa ketika ditambahkan 1 tetes pereaksi molisch (alfa naftol dalam alkohol), dikocok secara perlahan?
  2. Mengapa pada percobaan rekasi laktosa, sukrosa digunakan sebagai pengganti glukosa. Bisakah diganti dengan yang lain misalnya?
  3. Pada reaksi pati, mengapa dilakukan dekantasi sebanyak 3 kali dengan air sampai cairan diatas endapan menjadi bening?

Komentar

  1. Saya Zulia Nur Rahma (048) akan menjawab permasalahan no 3.
    Menurut saya Pada reaksi pati dilakukan dekantasi sebanyak 3 kali dengan air sampai cairan diatas endapan menjadi bening agar didapatkan pati yang murni.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. 2. Hal ini dikarenakan laktosa dan sukrosa adalah jenis karbohidrat sederhana juga yang sama sama jenis gula dan sama seperti glukosa dan juga pada molekul sukrosa dan laktosa terdapat molekul glukosa.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II PERCOBAAN 12 “Uji Asam Amino dan Protein”

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II PERCOBAAN 11 “Uji Karbohidrat”

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II PERCOBAAN 12 “Uji Asam Amino dan Protein”